Film dokumenter Indonesia Ini Tidak Boleh Dilewatkan

Film dokumenter Indonesia ini tidak boleh dilewatkan

Film dokumenter Indonesia memang tak sebanyak film komersilnya. Meski demikian, film dokumentar karya negeri sendiri tak boleh dianggap remeh. Karena dokumenter Indonesia mampu berkibar dalam berbagai festival film internasional.

Nah, kalau orang luar saja melihat dokumentar Indonesia, bagaimana dengan Sobat Lintas? Di bawah ini, ada beberapa dokumenter yang sayang sekali jika dilewatkan.

Biji Kopi Indonesia


Dokumenter arahan Budi Kurniawa, Biji Kopi Indonesia, berhasil menyabet penghargaan film dokumenter terbaik dalam Festival Film hainan, Tiongkok, digelar pada 12-14 Juli silam. Selain itu, film juga menerima best editing film di Ahvaz Science Film Festival di Iran, serta sempat diputar di Cannes Film Festival 2015.

Biji Kopi Indonesia menyuguhkan kehadiran kopi yang sudah sejak 300 tahun lalu ada di bumi Nusantara. Menggambarkan berbagai jenis kopi, tren, gaya hidup, kehidupan para petani kopi, dan seberapa dekat orang Indonesia mengenal kopi dari negerinya?

Tanah Mama


Tanah Mama merupakan dokumenter arahan Asrina Elisabeth, yang diproduseri oleh Nia Dinata. Film yang memakan biaya sekitar Rp 400 juta ini memotret kehidupan perempuan Papua. Dengan kata lain, film ini menjadi salah satu suara perempuan yang terjadi did aerahnya.

Mama Halosina ialah ibu empat anak yang terpaksa mengambil ubi di ladang adik iparnya, setelah suaminya meninggalkannya untuk menikah lagi. Saat ia memiliki beberapa bawang dan sayuraan untuk dijual, ia hanya mendapatkan hasil tak banyak. Hanya cukup membeli minyak goreng dan obat demam salah satu anaknya.

Dolanan Kehidupan


Beberapa bulan lalu, dokumenter ini banyak dibicarakan film maker dan movie addict. Pasalnya,Dolanan Kehidupan mampu meraih film terbaik Eagle Documentary Competition 2014 dan film dokumenter terbaik dan film favorit pemirsa di Festival Film Indonesia 2014.

Topeng Monyet


Topeng Monyet merupakan film besutan Ismail Fahmi Lubish yang kerap diputar di berbagai film festival. Sebut saja Rotterdam International Film Festival 2014 dan Chopshots Documentary Film Festival 2014. Dokumenter menceritakan monyet Komeng dan Temon bersama dua pelatihnya, Bebek dan Firman. Mereka tak ada pilihan lain, selain mengeksploitasi Komeng dan Temon di jalanan untuk mengais rezeki.

Layu Sebelum Berkembang


Tak dipungkiri, Ujian Nasional (UN) menjadi momok bagi para siswa di Indonesia. Sekolah tiga tahun SMP/SMA ditentukan dengan tiga hari ujian dengan bejibun mata pelajaran. Layu Sebelum Berkembang mengisahkan dua orang siswi yang tengah menghadapi UN. Menjelang UN, banyak sekolah yang mendominasi kegiatan keagamaan. Para siswa seolah layu – “menyerahkan” hidupnya dalam doa – sebelum UN.

Denok dan Gareng


DS Nugraheni menyajikan cerita Denok dan Gareng, sepasang anak jalanan yang tinggal di Yogyakarta. Kemudian mereka menikah dan menginginkan hidup stabil. Alhasil mereka kembali ke rumah ibu Gareng dan memulai berternak babi kecil-kecilan. Meski berat, mereka tetap harus meneruskan usaha, berjuang lebih keras, berharap, dan tertawa.

Sumber: lintas.Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s