Cemburu? Wajar Sih, tapi…


DI era teknologi seperti sekarang, komunikasi menjadi lebih mudah dengan adanya SMS (Short Message Service), FB (facebook), twitter serta fasilitas messenger khusus dari smartphone yang populer itu.

Seperti kita ketahui, komunikasi kerap ‘dielu-elukan’ sebagai kunci keharmonisan rumah tangga. Tanpa komunikasi yang baik, bisa terjadi salah paham yang berujung keributan dan merembet pada konflik lainnya.

Namun tanpa disadari, fasilitas komunikasi ini bisa membawa efek cemburu pada diri Anda atau pasangan. Misal Moms cemburu saat Dads berkutat dengan smartphone-nya atau Dads yang melirik cemburu melihat Moms asyik chatting di facebook dengan teman lamanya. Wah, hal kecil saja bisa menjadi pemicu ‘api cemburu’ ya!

Kecemburuan adalah emosi yang dapat dikatakan wajar jika terjadi pada Moms or Dads. Jika kita peduli terhadap seseorang dan ingin mereka peduli, maka rasa cemburu adalah normal sampai batas tertentu. Namun jika tidak berhati-hati, cemburu bisa jadi berlebihan dan merugikan hubungan. Bahkan tak jarang kecemburuan adalah akar penyebab hubungan pernikahan menjadi rusak.

Alasan Cemburu?

Cemburu merupakan suatu emosi negatif yang terjadi karena seseorang menjadi ancaman dalam suatu hubungan. Jadi, cemburu (jealous) itu melibatkan tiga orang, dimana salah seorang menjadi pihak ke-3 (yang dirasa mengancam).

Seringkali Moms or Dads mengingkari rasa cemburu karena tak ingin memunculkan pertengkaran. Namun sebenarnya setiap pasangan perlu mengenali ada apa di balik rasa cemburu tersebut? Apa yang membuat kita atau pasangan merasa cemburu?

Perasaan-perasaan yang biasanya muncul ketika cemburu adalah merasa takut kehilangan, terancam, merasa diabaikan, khawatir, merasa dikhianati (padahal belum tentu demikian), merasa ada keraguan akan diri sendiri, tidak yakin, dan seringkali dipenuhi amarah. Misal Moms menganggap perilaku Dads tidak sesuai dengan harapan, seperti bergaul terlalu dekat dengan rekan kerja wanitanya di kantor, begitu pula sebaliknya.

Saling Percaya Kikis Cemburu

Perasaan cemburu kerap dipendam satu sama lain. Akibatnya Moms or Dads tiba-tiba jadi uring-uringan di rumah, meributkan hal-hal kecil, bahkan menghindar dari hal-hal romantis karena sedang dikuasai perasaan marah yang tidak dikomunikasikan dengan baik.

Pondasi saling percaya harus dibangun bagi setiap pasangan. Jika tidak, bukan tidak mungkin satu sama lain terus membandingkan diri dengan orang lain. Dan jika suatu ketika salah satunya menunjukkan sedikit saja minat pada orang lain atau hal tertentu, maka kecemburuan akan mudah menguasai dan membuat Moms or Dads merasa tertekan dengan perasaan tersebut. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s